Tag: gay

My husband gay 2

Petir bergulung-gulung diatas langis, memekik kan nada-nada heavy metal. Tuhan memang Maha Rock N Roll. Maaf kita sedang tidak di nada yang sama Tuhan, lebih baik aku sembunyi dibalik selimut. Berdoa, semoga, rumah kecilku tidak rubuh. November memang semakin dingin, namun tetap suasana hati masih panas meranggas. Musim menikah dimana-mana, ditambah tahun ini november punya hari berbeda. 11-11-11. Entah doa, entah mistik mereka banyak berbaris diantrian menikah dan operasi sesar. Pernikahan, dan pikiranku langsung terbang ke salah satu cerita cinta, Ed dan kehidupan pernikahannya.

Dan, rasakan degup jantungku. ini perasaan bahagia, ini juga was-was.

“Easy darling.. relax…”

—0000—-

Read more…

My husband Gay

“hampir malam bre, ikannya udah kenyang semua”
Dani merangkul pundakku sembari kemudian membelai rambutku. Aku bisa merasakan kehangatan dari jernih suaranya di telingaku.

Bentar. Aku masih senang bermain bersama mereka.
Hampir malam, bulan nyaris sempurna diatas sana. Namun aku masih encggan beranjak dari tepi kolam ikan. Sudah 3 jam lebih aku disini. Sejak selesai makam siang tadi, dani berhasil memaksaku untuk pergi. Dia membawaku di salah satu bagian kota yang menacwan. Taman kota. Di sebelah selatan jantung kota. Cukup ramai dengan manusia berbagai jenis. Dari tukang makanan, para atlit olahrafga sore, beberapa pasang saling mencinta hingga anak-anak bersepeda.
Dani membawaku di ujung kolam ikan. Dan bukan dani jika dia tidak merencanakan semuanya. Dani mengeluarkan kontong plastik kecil berisi makanan ikan.
Bulan sudah mengernyitkan dahinya. Mulai kesal tanpa mengatakan apa-apa pada ulahku mengabaikannya malam ini.
Dan, kamu pernah jatuh cinta?
“kamu belum pernah mendengar cerita tentang gadis-gadis patah hati ya?” dia terbahak-bahak sebelum menjawab “ya pernah dong sayang”
Aku punya sebuah cerita cinta ajaib. Mau dengar?

“why not?”

and the story begin.

Di  pagi yang sangat cerah, dimana orang-orang sedang sibuk merias wajahnya. Ibu, adik-adikku dan beberapa orang sahabatku. Wangi aroma melati dan sedap malam membaur halus mengisi otakku. Kamar ini indah sekali dengan paduan mawar putih dan merah muda. Di atas ranjang pengantin ini, bertabur ratusan melati dan sedap malam di atas sprei merah mudanya. Indah sekali, aku sangat menikmati saat-saat ini. Saat-saat terakhirku menjadi seorang lajang. Hari ini semoga menjadi hari terbaik kami.

“Cita, calonmu sudah datang. Kamu sudah siap kan?”
“Iya bu, Insya Allah Cita siap”

Aku memandang cermin, seorang gadis akan melepas masa lajangnya hari ini. Gadis itu tersenyum, riasan di wajahnya sangat natural, dia mengenakan kebaya tercantik yang pernah dia kenakan. Dia yakin dia pengantin tercantik sepanjang masa.
Aku memandang pria itu, dialah yang akan mempersuntingku hari ini. Dia sangat tampan dengan beskap putihnya, wajahnya merona dengan senyuman khasnya. Dialah pria yang selama 4 tahun ini mengisi penuh ruang hatiku, yang selama ini menjadi mimpiku.
Edward menuntunku duduk disebelahnya. Di hadapan kami duduk seorang penghulu yang siap menikahkan kami. Ayahku duduk di sampingku.

“Sudah siap mas Edward ?” Tanya sang penghulu.

“Insya Allah siap pak,”

“Baik, pegang tangan saya”

Tak terasa buliran air mataku tak kuasa lagi kutahan. Akhirnya janji setia itu diucapkannya.

“Saya terima nikahnya Citra Ayu  dengan mas Kawin seperangkat Alat sholat dan emas seberat 20 gram dibayar tunai. “

“Syah???”

Tanpa diperintah seluruh orang yang hadir mengucapkan kata syah bersamaan. Aku tersenyum lebar, begitu juga Edward yang sekarang telah menjadi suamiku.

[30 bulan yang lalu]

Jam menunjukkan pukul 2 pagi. aku ternyata tertidur di sofa. Film yang tadi aku tonton sudah habis diputar. Aku benar-benar ketiduran sampai tidak menyadari kedatangannya jika tidak tiba-tiba dia mengecup keningku.

“kok tidur disini sih say??”

Aku menggeliat, “ketiduran, tadi nonton film. baru pulang??”

“Iya, banyak kerjaan tadi di kantor. ada makanan ga? laper banget…”

“ada itu di atas kompor, tinggal dipanasin aja. mau disiapin?”

“ga, aku ambil sendiri aja. Kamu tidur lagi sana.”

Aku lalu mencium pipinya dan kembali ke kamar untuk bermimpi lagi. Selalu ada getaran magnet setiap kali kulitku menyentuh kulitnya. namun sayang itu hanya terjadi padaku. Edward nama laki-laki itu adalah sahabat terbaikku. Sudah hampir setahun ini kami tinggal bersama. Alasan ekonomis sebenarnya kami berdua memutuskan tinggal bersama. Biaya menyewa tempat tinggal di Jakarta luar biasa mahal. Apartment ini tidak mungkin sanggup aku sewa sendiri mengingat kondisi pekerjaanku yang masih belum settle. Aku sudah berteman lama dengan Edward sebelumnya, satu-satunya yang paling dekat denganku. Tadinya aku berfikir untuk mengajak teman wanitaku untuk tinggal bersama, hanya saja aku tidak banyak memiliki teman dekat wanita. Lagipula toh Edward seorang gay, aku tidak perlu khawatir tiba-tiba dia akan mengambil kesempatan atasku.

Sebagai perempuan normal, tinggal dengan seorang laki-laki gay bukan hal yang mudah. Bukan karena sifat laki-laki yang pemalas, karena sebenarnya Edward sangat hobi membersihkan rumah dan tidak tahan melihat debu sedikit pun. Tapi karena godaan yang harus aku terima selama tinggal dengannya. Aku harus membiasakan diri melihatnya bertelanjang dada di dalam rumah, aku harus ekstra siap jika sewaktu-waktu kami harus tidur bersama hanya karena dia tidak tahan panas di kamarnya. Dan sebagai seorang perempuan yang diam-diam juga mencintainya, aku harus bisa meredam rona merah di wajahku setiap kali di menciumku entah di kening ataupun di pipi.

Edward sudah menganggapku seperti adiknya sendiri, sama sebenarnya dengan aku. Dia sudah seperti seorang kakak bagiku. Dulu saat aku masih kuliah, dia yang setengah mati membantuku mengerjakan TA-ku. Waktu pacarku selingkuh, dia juga yang mengajak berantem pacarku. Dia benar-benar telah menjadi penjagaku. Yang mengajari aku banyak hal. Mungkin karena kebersamaan kami yang sudah sangat dekat ini yang mengakibatkan aku sulit menolak perasaan lain yang pelan-pelan tumbuh di hatiku. Yang pada akhirnya semua orang benar-benar mengira kami pacaran. Aku tidak mengambil pusing hal itu sama seperti dia. Meskipun hanya aku yang tahu bahwa dia seorang gay.

Tiba-tiba aku merasakan seseorang di sebelahku. Aku membuka sedikit mataku. “sana ah, ini kamar cewek tau!!”

“yaah…. jakarta panas banget. Geser dikit dong..”

“Enak aja… udah nyempil masih nyuruh-nyuruh minggir pula.”

Tiba-tiba dia memelukku, Ya Tuhan sekarang aku harus bagaimana supaya dia tidak mendengar degup jantungnya yang tiba-tiba berlari kencang.

“Kok malah deg-degan sih?”

“ya iyalah, aku kan normal. dibekep cowok gimana ga deg-degan??”

“masa dibekep homo bisa terangsang sih?” candanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“sapa bilang terangsang, dasar piktor!!”

Lalu kami terdiam dan tak berapa lama aku mulai mendengar dengkuran halusnya. Sekarang ganti aku yang tidak bisa tidur.

“Say, udah tidur??”

“hmmmm…. knapa?

“Besok jangan lupa ya, jangan pulang malem-malem.” lalu dia terdiam lama sekali. Aku tak mencoba menunggu jawabannya. Sepertinya dia juga tak tertidur lagi, seperti ada yang dipikirkannya.

“Iya” jawabnya singkat sebelum akhirnya dia benar-benar tertidur lagi.

Keesokan harinya, seperti sudah menjadi tradisi kami. Setiap sebulan sekali kami berdua melakukan kebiasaan yang disebut “Sabtu gila”. Malam itu, kami harus berdandan terbalik seperti biasanya kami. Aku yang akan menjadi laki-laki dan Edward yang akan menjadi Perempuan. Aku akan mengenakan baju-bajunya yang maha besar itu, sementara dia akan mengenakan baju-baju perempuanku yang tentu saja dengan make upnya. Edward selalu menambahkan riasan kumis di atas bibirku meskipun pada akhirnya wajahku lebih mirip badut daripada tampang gahar seorang laki-laki, sementara dia juga aku ubah sangat cantik dengan bibir merah merona. Aku pasti kalah cantik jika di wajahnya tidak ada kumis tipis dan jambangnya.

Semalaman itu kami akan menonton film-film yang kami pilih secara acak sambil menghabiskan satu loyang besar pizza, satu cup besar ice cream coklat dan sekotak tissu jika kami mendapati film yang kami tonton sangat menyedihkan. Namun jika ternyata filmnya jelek, kami akan mengobrol sampai tertidur.

Tapi sudah 3 bulan ini tradisi itu tidak hanya milik kami berdua, semenjak edward memiliki kekasih, malam itu menjadi milik aku, edward dan Alex. 1 loyang pizza menjadi 2 loyang pizza. Karena aku sudah mengenal baik Alex, hal ini tidak menggangguku. Dia cukup menyenangkan, apalagi aku tahu sekali. Alex adalah cinta pertama Edward. Satu-satunya laki-laki yang mampu membuat Edward tak berhenti membicarakan kehebatannya.. yang membuat Edward kadang menangis dan marah karena cemburu. yang telah mengubah kehidupan edward seluruhnya menjadi sangat hebat.

Aku sama sekali tidak keberatan pada akhirnya, jika sahabatku itu lebih sering bersama kekasihnya daripada bersamaku. Aku ikut bahagia karenanya, meskipun sekarang aku harus pergi sendiri mengurus keperluan rumah. Waktu senggangnya tak banyak, jadi sekalinya dia mempunyai waktu luang edward akan menghabiskan waktu bersama Alex.

“Jadi kalau kalian sudah jadi laki-laki dan perempuan, aku jadi apa dong???” tanya Alex sambil memandangi dandanan kami yang spektakuler.

“Jadi Banciiiii!!” teriak kami bersamaan sambil tertawa.

Dengan tanpa babibu lagi, kami mendandani Alex seperti seorang perempuan juga. Dan lucunya lagi selesai mendandani Alex, bisa-bisanya mereka berciuman di hadapanku. Aku merasakan seperti sayatan kecil di hatiku, yeaahh aku tahu aku sedikit cemburu. Sedikit?? OK..ok, banyaak.!!

“Dasar Lesbi!!” Aku pukul mereka berdua dengan bantal, lalu mereka malah tertawa dan menggelitiki aku. Sungguh kehidupan yang aneh.

Malam itu kami mendapati film horor yang sangat buruk, kompak kami memutuskan menghentikan acara menonton. Sambil menghabiskan makanan dan es krim kami. Edward memulai pembicaraan”
“say, ada yang kami kasih tahu sama kamu.”

“hmm apapan?? Jangan bilang kalian mau ke Belanda buat Kawin lari?? Atau jangan-jangan kamu hamil ya??” Sahutku.

“Hahahaha” sambil edward menoyor kepalaku.

“kamu aja yang bilang deh sayang” edward mengerlingkan matanya ke Alex.

“jadi gini say, kita berdua kan dah lama nih pacaran. Trus hubungan kami ini kan sebenernya serius juga, tapi yaa ituu.. kita juga jarang ketemu. ya ga beib??”

“Iya, jadi Alex ngajak aku pindah tinggal sama dia.” edward tersenyum malu, dia tak kuasa menyembunyikan perasaan senangnya.

Aku tertegun mendengar berita yang baru saja kudengar,

“kok mendadak sekali sih??”

“Sebenernya dari kemarin aku mau ngasih tau kamu, cuma belum ketemu waktu yang pas. dari kemaren kita ketemunya kan di tempat tidur doang” edward nyengir  menyandarkan kepalanya di pundak Alex.

Entah perasaan apa yang ada di hatiku saat ini. kaget, sedih sekaligus bahagia. Aku akan kehilangan roomate ku, hidup sendiri. Aku akan kehilangan sahabatku sekaligus cintaku. namun terlepas dari itu, aku sangat bahagia, karena melihat matanya yang tak berhenti bersinar akan cinta. Melihatnya sangat bahagia dan antusias seperti itu melenyapkan semua rasa sedih yang sempat hinggap. Aku tersenyum dan memeluk mereka berdua.

“Selamaat yaa”

“Tuuh kan beib, cita ga marah. kamu terlalu parno sih. Aku kenal cita kan ga baru kemaren, paling bentaran dia ga bisa tidur gara-gara ga ada yg nyempilin dia tidur”

Aku meneteskan air mataku, edward juga. dia memelukku sangat erat.

“Aku pulang dulu ya”  kata Alex.

“lho acaranya kan belom selesai” sambil aku menunjuk satu cup besar ice cream coklat.

“kalian habiskan saja sendiri, aku ga mau ganggu acara perpisahan sepasang sahabat”

Aku tergelak sambil melemparnya dengan bantal. “ya udah, pergi gih sana…”

Setelah 15 menit mereka berciuman, dan edward mengantarnya sampai mobilnya pergi. Aku mulai menangis.

“aku janji say, aku akan sering kesini.”

“Siapa bilang aku nangisin kamu, aku nangis karena siapa nanti yang bayar setengah uang sewa apartment ini??”

“Dasar matre, iya tar aku bantuin. Tapi kamu cari temen lagi ya, biar kamu ga sendirian, ga kesepian kalo ga ada aku.”

“Nanti kalo aku kangen kamu gimana? kalo butuh duit gimana??”

“kan bisa telpon”

Dan malam itu kami habiskan sambil meneteskan air mata dan tertawa, mengingat-ingat memori yang pernah terjadi dulu, Kami tidak bisa memungkiri bahwa kami akan saling kehilangan. Bertahun-tahun kami bersama tanpa ada seorang pun di antara kami. Dan sekarang edward telah memilih langkah yang lebih serius dengan kekasihnya, Sebagai sahabatnya aku yang paling bahagia atas keputusannya, namun sebagi perempuan yang diam-diam mencintainya. Aku akan menghadapi kesepian luar biasa tanpanya nanti.

Sebelum tidur aku hanya bisa mengucapkan “I will miss you”

[16 bulan kemudian]

Sudah lama edward tidak ke sini, sudah hampir setahun ini dia mulai jarang kesini. Kesibukan luar biasa di kantornya karena promosi yang didapat sekaligus kisah cintanya yang memanas sepertinya yang membuat dia mulai mengurangi “jatah”ku. Meskipun tidak benar-benar memutuskan hubungan, sesekali aku masih menerima kiriman satu kotak coklat dari dia di kantor atau tiba-tiba tengah malam dia menelepon dengan nada sedih karena habis bertengkar dengan Alex.

Dan sudah sebulan ini aku tidak mendengar kabar darinya. Aku mulai berdamai dengan rasa sepiku atas kehilangannya. Teman-teman sudah mulai berhenti mengasihani aku yang putus dari edward. Selama ini semua orang menganggap aku dan edward adalah sepasang kekasih, karena menurut mereka kedekatan kami diluar batas persahabatan. Aku tidak peduli apa kata mereka, bahkan yang menggosipkan aku menganut free sex dengan edward gara-gara tinggal bersama pun tak ku gubris. Bagiku yang tahu bagaimana kami hanya Aku, edward dan Tuhan.

Kata mereka aku kurus sekali semenjak ditinggalkan edward, seperti tidak punya gairah hidup. Ah, mereka hanya melebih-lebihkan. Aku hanya patah hati, bukan sesuatu yang besar kok. Its not a big deal. Takkan indah cinta itu jika tak disertai sedikit sakit diantaranya.

Jam 3 pagi pintu rumahku diketuk seseorang. Setengah malas aku membukakan pintu, aku masih sangat mengantuk. Baru 3 jam aku tidur, dan rasanya seperti baru 2 detik yang lalu. Siapa yang dari tadi menggedor pintu.

Begitu aku membuka pintu, aku nyaris berteriak kaget. Edward yang ada dibalik pintu itu, sangat kucel, banyak lebam di wajahnya. Dia nyaris rubuh ke lantai jika aku tidak segera menangkap tubuh besarnya. Edward pingsan dalam pelukanku.
3 jam kemudian, setelah ditolong oleh temanku yang dokter. Edward sadarkan diri.

“ed, ed… “ Aku langsung memeluknya.

“aduuuhhh…pusing banget”

Setelah memberi obat dan resep temanku pun pulang. Ketika aku kembali ke kamar edward sudah duduk bersandar bantal.
Aku memeluknya lagi sambil menangis,

“Kurang ajar kamu ya, sudah ga pernah nengokin aku sekalinya datang bikin panik saja. Kamuu kenapaa??”

Edward tersenyum, dia hanya membelai kepalaku

Butuh waktu 3 hari sampai aku akhirnya mendengar cerita sebenarnya. Sebelumnya aku sudah mencoba mencari tahu dari Alex, tapi sepertinya dia pun menghilang. Apa yang terjadi sebenarnya??

3 hari sebelumnya,

Setelah sekian lama mereka hidup bersama, mereka tinggal di sebuah lingkungan yang cukup peduli dengan sekitarnya. Lama kelamaan hubungan mereka tercium oleh penduduk, kebetulan Alex menempati rumah keluarganya yang sekarang tinggal di luar kota. Jangankan pasangan kumpul kebo, pasangan homosexual adalah aib masyarakat yang harus di hilangkan. Mereka berdua ketahuan jika mereka bukan teman biasa, tapi sepasang kekasih. Dengan serta merta warga melaporkan ke keluarga Alex, dan malam itu mereka kena gerebek oleh warga dan keluarga Alex. Dalam keadaan syok berat, Edwardhabis dihajar oleh pamannya Alex dan kakaknya. Dia dianggap sebagai virus yang mempengaruhi Alex sehingga berubah menjadi gay. Edward nyaris diarak masa saat itu, namun setelah dilakukan perjanjian. Edward diusir dari sana dengan sangat tidak hormat, dengan membawa sedikit harga dirinya, edward pulang ke rumah lagi.

Tragis aku mendengar ceritanya, tak kusangka kisah cintanya yang sangat fenomenal ini berakhir tragis.  edward sangat terpukul sekali, dia nyaris kehilangan kewarasannya karena kehilangan Alex dengan paksa. Ditambah lagi dia nyaris kehilangan pekerjaannya atas kejadian ini. Aku berhasil membawa pulang barang-barangnya yang tertinggal di sana dan sempat bertemu Alex. Dia juga sama-sama terpukulnya, laki-laki itu kini telah di jodohkan oleh keluarganya dengan seorang wanita. dan dalam waktu dekat ini mereka akan menikah lalu meninggalkan Jakarta.

“Cita, maafkan aku. Seharusnya tidak terjadi seperti ini. Jika dulu aku tidak memintanya hidup bersamaku, mungkin tidak akan separah ini keadaannya”

“Sudahlah, ga perlu disesali. Sekarang yang penting bagaimana kalian bisa melanjutkan hidup”

“bagaimana keadaannya?”

“hancur”

“Sampaikan permintaan maafku padanya, aku masih sangat mencintai dia. Aku titip dia ya sama kamu”

“tanpa kamu min…”
Dan sekarang aku melihat edward nyaris seperti tanpa jiwa, sudah 4 bulan dia lebih banyak diam. Dia benar-benar seperti mayat hidup.
“mau sampai kapan kamu seperti ini??” Aku menampar wajah orang yang paling kusayangi ini.
“KAMU SAMA SEKALI TIDAK BISA MENGERTI”

“tidak mengerti apa??? kamu benar-benar sudah merusak tubuhmu sendiri”

“Kamu tidak mengerti rasanya kehilangan!!”

“Brengsek kamu ya,!! kamu pikir aku tidak tahu rasanya kehilangan??? AKU TAHU SEKALI!!”

edward hanya diam tertegun memandangku,

“Kamu pikir aku tidak nyaris Gila waktu kamu pergi…. KAmu pikir aku bisa hidup Normal waktu kamu pergi??? Kamu pikir Aku tidak menangis setiap malam karena merindukan kamu??? Kamu pikir aku tidak tahu rasanya, harus jauh dari orang yang paling aku cintai?? Kamu BODOH!!!”

Edward sekarang benar-benar kehilangan kata-katanya, .. “ku pikir kita…”
“Sahabat?? Yaa kamu memang sahabatku, teman terbaikku orang yang paling berarti buat aku. Sekaligus orang yang paling aku cintai. Tidak bisa memiliki kamu bukan akhir segalanya sayang…, aku jauh lebih bahagia saat kamu bahagia. saat kamu benar-benar bahagia dengan Alex adalah saat paling aku bahagia. Aku bahagia karena orang yang aku cintai bisa bermimpi indah, dan  tersenyum senang. kalau kamu mau belajar mencintai?? Belajar sama aku!!”

“Sekarang lihat dirimu, bahkan aku sebagai perempuan malu sudah jatuh cinta sama kamu. Malu aku pada sahabatku yang dulu selalu ceria tapi sekarang ga lebih seperti zombi. Kamu pikir Alex bahagia melihat kondisimu sekarang, kamu pikir dengan seperti ini Alex bisa hidup tenang??”

“Coba berkaca, bisa-bisanya kamu cuma memikirkan perasaanmu sendiri. Patah hatimu sendiri tanpa kamu perdulikan perasaan orang-orang yang mencintai kamu. Aku,…Alex…. KAMU pikir KAMI SENANG MELIHAT KAMU SEPERTI INI???”

Edward memelukku erat, “Aku janji..aku tidak akan membuat kalian susah lagi. Aku janji.”

Hari-hari setelah kejadian itu, kami berdua seperti orang yang baru mengenal kemarin. Karena sekarang kondisinya berubah. Edward sudah mengetahui perasaan yang selama ini aku pendam. Tapi syukurlah hal itu tidak berlanjut lama, kami membuat kesepakatan bahwa hanya karena aku mencintainya bukan berarti mengubah hubungan kami. Bagaimanapun persahabatan kami lebih berarti banyak dari kenyataan yang ada. Kami lebih menghargai kebersamaan dan kenangan lama kami daripada memusingkan cintaku, cintanya atau apapun itu namanya. kami sudah cukup merasakan sakit dan tidak ingin menambah rasa sakit itu dengan masalah baru. Aku hanya memintanya untuk jangan pergi lagi.

6 bulan kemudian,

Setelah lama merantau di Jakarta, Edward mengajakku pulang ke kampung halamannya di Kalimantan. Di sana aku diperkenalkan oleh Orang tuanya dan keluarganya. 5 hari disana mereka sudah menganggapku sebagai keluarga sendiri. Semua mengira aku adalah pacar edward, meskipun edward tidak pernah memperkenalkan aku seperti itu. Bagiku hal itu biasa saja, resiko bersahabat dengan gay memang seperti itu. Hingga suatu malam,

“Edward, mama dengar kalian di Jakarta tinggal bersama ya?”

Seperti ditampar kami berdua ditanya, bagaimana mungkin kabar itu bisa terdengar sampai sini. Jangan-jangan ibunya juga tau bahwa anaknya gay. Waduh, bisa ada masalah besar ini. Kami berdua hanya diam saja tidak berani menjawab.

“Karena kalian diam itu berarti iya”

“Bukan begitu ma, tidak seperti yang mama bayangkan”

“Bagaimana tidak seperti yang mama bayangkan, kalian 2 orang berbeda jenis kelamin tinggal satu atap. Untung kalian tidak tinggal di sini, bisa-bisa kalian di sate kalau sampai melakukan hal itu di sini”

Tidak mungkin menjelaskan pada orang tuanya kondisi kami sebenarnya di sana. Malah akan melukai perasaan mamanya. Tapi jika kami hanya diam saja itu berarti kami menyetujui tuduhan mamanya bahwa kami kumpul kebo. Kami hanya berpandangan saja, tak tahu bagaimana harus menjelaskan.

“Mama malu, kalian sudah lama tinggal bersama tapi kau baru mengenalkan pada mama pacar kau ini. Mama tau persis seperti apa anak mama, mama tau kau tidak melakukan ini dengan sengaja. tapi mama malu sama keluarga kita, anak mama hidup dengan perempuan yang bukan istrinya. bagaimana nanti kalau pacar kau ini hamil??”

Nyaris kami tertawa, benar-benar di luar dugaan kami.  Kami tidak pernah berpikir sejauh ini.

“Begini saja, kau sudah besar ed, umur kau  juga sudah cukup. daripada mama malu minggu depan kita lamar sekalian Cita ke keluarganya”

Lagi-lagi kami dibuat terbengong-bengong. Nikah??? whatt???? sama sekali tak terlintas dipikiran kami.

“tapi maa… kamiii tidak bisa…”

“Tidak bisa bagaimana, mau tunggu apa lagi kau. Mau menunggu pacar kau ini hamil dulu baru kau kawinin?? Atau kau mau nunggu mama sekarat dulu baru mau nikah?? Kalau tidak mau menikah, kalian sebaiknya berpisah dan kau mama nikahkan dengan perempuan di kampung ini.”

“Ed bicarakan dulu dengan cita ya ma. Kita ga bisa ngambil keputusan secepat itu. Ya maa…”

“terserah kau lah.. pokoknya minggu depan kita ke rumah orang tua cita”

Diluar rumah edward kami duduk berdua, saling memandang lalu tertawa.

“GIlaa,,,ini gilaa. KIta nikah???” edward tertawa terbahak-bahak.

“lalu bagaimana kalau tidak, kamu bakalan dikawinin juga sama perempuan lain.”

“Bukan masalah itu, dengan siapapun aku menikah. Dia perempuan cit, perempuan. Sementara aku???”

“Perempuan itu akan sangat menderita. Aku tidak akan bisa jadi suami yang sebenarnya. Semuanya akan dilandasi kepura-puraan. Perempuan itu akan tersiksa, dan aku pun akan tersiksa. Ujung-ujungannya pasti perceraian. Aku malah akan menghancurkan harapan mama”

Edward terdiam, sepertinya hal ini tidak lagi bisa dianggap sepele oleh kami.

“Mamamu sepertinya serius. kalaupun akhirnya kita pisah rumah, ga menjamin kamu ga dipaksa kawin sama yang lain”

“Iyaa, trus gimanaa??”

“Tauk…aku juga bingung.”

“Aku malah hanya menyakitimu, aku belum tentu bisa meniduri kamu”

“Dasar bodoh, tolol!! Aku perempuan yang mencintai kamu apa adanya kamu, dari dulu. Mau kamu gay, apa aku pernah mempermasalahkan ?? helooo cintaku sayangku belahan hatiku, kamu lupa kita hidup bersama selama  3 tahun tanpa sex??? Dan apa aku terlihat tersiksa selain ketika kamu meningalkan aku???”

Kami lama terdiam.

“Pernikahan itu sakral cit, meskipun aku seorang gay aku juga menginginkan sebuah keluarga yang normal. Tapi itu akan luar biasa sulit. Pernikahan itu bukan main-main, kalau kita menikah kita…”

“Kenapa?? kita kenapa??”

“ga jadi..tadinya aku pikir kalo kita menikah artinya kita tidur bareng padahal itu sudah biasa ya, tadinya aku berpikir kalau kita menikah milikku adalah milikmu padahal selama ini itu yang kita lakukan. Kamu akan menjadi pendampingku saat susah dan senang, dan itu juga yang selama ini ada diantara kita. Hanya saja aku tidak mungkin mencintaimu,…. ada Alex.”

“Selama ini apa aku memintamu untuk mencintaiku juga. Tidak, resikoku yang sudah terlanjur jatuh cinta sama orang seperti kamu ya itu tidak akan dicintai. Namun bagiku, cinta bukan segalanya, kamu sudah memberiku sesuatu yang lebih indah dari cinta itu sendiri. dan aku tidak pernah merasa tersiksa meskipun kamu masih sangat mencintai Alex. yang paling tahu bagaimana kita adalah Tuhan. Jika memang Tuhan memutuskan kamu adalah jodohku, aku tidak mungkin menolak”

Lama kami terdiam lagi, edward memelukku sementara aku merebahkan kepalaku di pundaknya. Tiba-tiba edward berdiri dihadapanku dan bersimbuh di hadapanku.

“Citra, maukah kamu menikahiku ?”

“Aku tertawa keras sekali, “ Baiklah cintaku aku akan menikahimu,…….. setelah kau belikan aku cincin berlian”

“Dasar matre!!”

Malam itu kami menyerahkan semua kepada Tuhan. Akan seperti apa kami nanti, pernikahan seperti apa yang akan kami jalani nanti. Yang pasti kami lelah untuk saling menyakiti dan disakiti. Cintaku dan cintanya sama-sama bertepuk sebelah tangan, tapi kami percaya Tuhan punya rencana pada kami.

[Malam Pertama]

Kami masih berpakaian lengkap setelah hampir setengah jam yang lalu para orang tua memaksa kami masuk kamar pengantin kami. Padahal tadinya kami bermaksud untuk ikut bersenang-senang diluar sana, tapi sepertinya bagi mereka sepasang pengantin baru tidak seharusnya ada di luar kamar pengantin mereka saat malam pertama. Maka di sinilah kami berdua, di dalam kamar yang dipenuhi banyak bunga. Sepasang pengantin yang sedang canggung, Dan kami berpandangan.

“istriku…”

“Suamiku….”

Tergelak kami dengan panggilan baru itu. Aku lalu berdiri di hadapannya, pelan-pelan kubuka setiap helai baju yang melekat di tubuhku. yang tertinggal hanya pakaian dalamku. lalu aku mulai membuka bajunya satu persatu. Dia kebingungan,

“Cit, kamu mau ngapain. kamu tau kan aku ga mungkin nidurin kamu”

“Aku sekarang istrimu, aku tidak perlu lagi malu membuka bajuku di depan suamiku.”

“tapi cit,.. aku ga bisa…”

 Aku lalu mengambil semua baju pengantinku dan melemparkannya ke suamiku.

 “Nih pake, gantian… aku yg pake baju beskapnya. Kamu yang pake Kebayanya, biar ngerasain rasanya pake kebaya sama konde.”

 “jadi?? hwahahahahahha dasar gila kamu ya. malam pertama diajak maen tuker2an baju. memang ada makanannya??”

 “Santai saja suamiku tercinta, aku sudah ngumpetin satu piring kue pengantin kita dan satu cup besar es krim choco vanila. Aku tau kamu suka vanila, jadi sekarang tidak cuma coklat yang ada. tapi choco-vanila”

 “terimakasih sayang, aku bersyukur memiliki istri seperti kamu”

 “Jadi sampai kapan kamu mau memeluk aku seperti ini, atau sekaraang kamu yang ingin meniduri aku??”

 “Tidaakk!!”

 Aku tertawa melihat dia menjadi sekonyol itu.

 Aku lalu menghapus riasanku dan ganti merias wajah suamiku. Begitu pula dia. Aku memutuskan untuk mengisi malam pertama kami dengan kegiatan yang memang sudah menjadi kebiasaan kami. Malam pengantin kami menjadi lebih seru daripada melakukan sex sepanjang malam. Apapun yang terjadi besok, kami pasrahkan pada Tuhan. Akan sampai dimana kami bertahan, akan sampai kapan kami saling memiliki seperti ini.

 Suamiku gay, suami sahabatku, suamiku pula yang membuatku bahagia hari ini dan semoga saja sampai besok.

 Mungkin aku tidak pernah mengerti sebenarnya apa itu cinta, Bagiku tidak meminta banyak, menerima apa adanya dia dan bisa melihatnya bahagia, maka itulah cinta meskipun cinta itu tak saling memiliki.

Happy ending??? No one knows.. :)

 

[amien?]